Facebook Twitter Instagram Flickr

PENGUMUMAN SELEKSI PENULIS EMERGING UWRF 2022

Posted: 25 May 2022

Seleksi penulis emerging Ubud Writers and Readers Festival tahun 2022 telah tiba pada akhirnya. Para Kurator yang juga pengarang ternama Indonesia, yakni Ahmad Fuadi, Ramayda Akmal, serta Made Adnyana Ole, menetapkan sepuluh penulis hasil seleksi yang menunjukkan kekhasan penciptaannya masing-masing.

UWRF tahun ini secara khusus menitikberatkan pada kategori cerita pendek. Selain karena perkembangan cerita pendek di Indonesia yang kian dinamis, cerpen juga masih memungkinkan hadirnya elaborasi bentuk dan teknik menulis. Kita sering menemukan cerita pendek yang ‘ditulis lebih panjang’ sebagai upaya para penulis dalam bereksperimen. Demikian juga dari sisi tematik, kita menemukan topik-topik yang lebih inklusif. Kini, cerita pendek tidak lagi didefinisikan sebagai ‘karya yang dibaca sekali duduk’ namun beralih menjadi kisah yang dapat ditengok dan diresapi kapan saja.

Selama masa submisi pada 1 Februari 2022 hingga 11 Maret 2022 Panitia menerima sekitar 1.310 cerpen karya 262 penulis dari seluruh wilayah Indonesia. Tiap-tiap pengarang boleh dikata menyajikan cerita pendek yang sangat beragam, baik dari sisi bentuk, tema, maupun elaborasi estetik lainnya. Antusiasme ini muncul bukan hanya dari penulis yang telah berkecimpung panjang dalam dunia sastra di Indonesia, melainkan juga nama-nama baru yang tengah mencoba meneguhkan eksistensi kepenulisannya. Demi mencermati banyaknya karya yang masuk tersebut, seleksi dilakukan dalam 2 tahap, yakni pre-kurasi yang memilih 40 penulis nominasi, serta kurasi akhir yang dilaksanakan pada 20 Mei 2022 menentukan 10 penulis terbaik

Salah satu Kurator, Ahmad Fuadi sang penulis buku Negeri 5 Menara, menyampaikan kebahagiaannya dapat membaca karya-karya penulis dari berbagai penjuru Indonesia. “Ini mencerminkan lanskap kepenulisan yang luas dan tidak hanya terpusat di Jawa. Selain itu, tema yang diangkat sangat beragam, dan saya sendiri tertarik dengan mereka yang menggali akar budaya serta memperlihatkan identitas lokal dengan percaya diri,” ujarnya.

Sementara itu, Ramayda Akmal yang belum lama merilis buku kumpulan cerpen terbarunya, Aliansi Monyet Putih, menyebutkan bahwa ada tiga tema menarik yang patut digarisbawahi, antara lain cerpen-cerpen bertema sejarah, kekerasan terhadap manusia dan alam, dan futuristik-distopik. “Meskipun tema digarap secara eksploratif, saya kira banyak cerpen yang tidak diimbangi dari sisi bentuk. Misalnya kurang fokus terhadap masalah yang disampaikan, sudut pandangnya kabur, hingga pilihan strategi literer yang masih terbatas,” katanya.

Catatan kritis juga disampaikan oleh Made Adnyana Ole, seorang cerpenis sekaligus penyair dari Bali. Menurutnya, beberapa cerpen telah memenuhi eksperimen kepenulisan baru. “Namun, di sisi lain masih ditemukan karya yang tidak tidak kuat lantaran persoalan-persoalan teknik penceritaan. Sebagai gagasan bagus tetapi sayang sekali teknik penceritaannya tidak jelas.”

Dengan kecermatan pembacaan tersebut, Dewan Kurator bersepakat untuk memilih 10 penulis yang dinilai telah mampu menunjukan penggalian tematik, kecakapan berbahasa dan teknik pengisahan, hingga kemungkinan elaboratif dalam penulisan cerpen yang telah dilakukan masing-masing pengarang.

Sepuluh penulis terpilih yang namanya disusun secara alfabetis, antara lain:

  1. Andi Makkaraja, asal daerah Bulukumba, Sulawesi Selatan
  2. Awi Chin, asal daerah Sintang, Kalimantan Barat
  3. Desy Febrianti (Puspa Seruni), asal daerah Situbondo, Jawa Timur
  4. Eko Darmoko, asal daerah Surabaya, Jawa Timur
  5. Iin Farliani, asal daerah Mataram, Nusa Tenggara Barat
  6. I Putu Juli Sastrawan, asal daerah Klungkung, Bali
  7. I Wayan Agus Wiratama, asal daerah Gianyar, Bali
  8. Sasti Gotama, asal daerah Malang, Jawa Timur
  9. Muhamad Nanda Fauzan, asal daerah Lebak, Banten
  10. Ricky A. Manik, asal daerah Jambi

Direktur dan pendiri Festival, Janet DeNeefe menyampaikan ketidaksabarannya untuk menyambut para penulis yang terpilih di Ubud, Bali. “Mereka akan mendapatkan pembekalan dan pelatihan sebelum hadir di festival nanti. Karya – karya para penulis terpilih akan diterbitkan dalam bentuk antologi UWRF 2022. Untuk itu dukungan dari segala pihak akan sangat berpengaruh besar untuk program penulis emerging tahun ini. Selamat kepada penulis – penulis yang terpilih.”

Dukung kehadiran 10 Penulis emerging Indonesia dengan cara bergabung di Yayasan Patron Program dan ikuti akun media sosial kami di InstagramTwitter dan Facebook untuk informasi terbaru.