fbpx

Staff Picks // Tiara Mahardika

Posted: 14 October 2019 Author: sikuska

Siapa yang lebih mengenal program Festival dibanding para staff-nya? Kami mewawancarai staff UWRF mengenai program apa yang paling ingin mereka lihat atau siapa pembicara yang paling ingin mereka temui. Minggu ini, temui Tiara Mahardika, National Media Coordinator UWRF, untuk tahu siapa pilihannya.

Tiara berkesempatan meliput UWRF untuk pertama kalinya saat ia menjadi seorang jurnalis pada tahun 2014, dan ia selalu kembali setiap tahunnya. Tahun 2018, ia bergabung dengan Festival sebagai bagian dari tim Media. Selama Festival, Anda bisa berjumpa dengannya di antara satu venue ke venue lainnya, sembari menemani jurnalis yang datang untuk liputan dan wawancara dengan para pembicara Festival yang menakjubkan. 

 

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma telah menjadi jurnalis sejak tahun 1977 dan kini tergabung dalam panajournal.com. Buku-bukunya termasuk Obrolan Sukab (kumpulan kolom), Transit (kumpulan cerpen) dan Kalatidha (novel). Ia mengajar di berbagai universitas. Buku-buku nonfiksinya yang akan segera terbit adalah Ngobrolin Komik, Film, dan Nasionalisme dan Dari Soekarno Sampai Spider Man.

Didukung oleh Gramedia Pustaka Utama.

“Setiap pembaca punya daftar penulis favoritnya. Awalnya, saya tertarik dengan karya Seno Gumira Ajidarma karena beliau banyak menulis tentang senja. Tak disangka, karya-karya beliau pun begitu mengena, penuh imajinasi, sangat kompleks, dan sarat makna. Banyak pesan yang disampaikan dari buku-bukunya. Sindiran-sindiran halus yang diselipkan mengenai banyak kejadian hingga peristiwa politik, dapat ditemui dalam karyanya. Sangat rapi! Saya berharap bisa datang ke semua sesinya, atau paling tidak sesi Main Program | Rise of the Tiger, di mana beliau akan ikut berdiskusi bersama panelis lain untuk membedah apa yang diperlukan Indonesia untuk menjadi ‘harimau Asia’ berikutnya.”

Main Program | The Unsung Heroes of Literature

Para penerjemah adalah pahlawan sastra tanpa tanda jasa. Mengubah urutan literal berarti tidak pernah memotongnya: para penerjemah selalu bergantung pada konteks, membuat penilaian yang konstan. Karena upaya mereka yang diabaikan tersebut, kita para pembaca dapat melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang tidak diketahui. Panel penerjemah dan penulis terjemahan kami memperlajari dampak terjemahan terhadap bagaimana kita melihat dunia, dan di mana kita berada tanpa terjemahan itu sendiri.

“Saya mulai membaca buku terjemahan sejak kecil. Dari Harry Potter, The Hobbit, hingga Lolita—yang sudah diterjemahkan dengan apik, semuanya menyuguhkan dunia dan perspektif baru bagi saya yang saat itu bahkan belum berusia belasan tahun. Selama ini kita sibuk memuji-muji penulis buku, tapi melupakan para penerjemahnya. Padahal, menerjemahkan dengan baik bukanlah perkara mudah. Saya ingin mendengar langsung dari para penerjemah buku yang diundang Festival tahun ini tentang dunia mereka, tentang usahanya menemukan konteks yang tepat untuk setiap garapannya, hingga tentang harapan mereka akan pekerjaan sebagai penerjemah di masa yang akan datang.”

Main Program | Made Taro: A Lifetime of Storytelling

Di tengah gempuran gadget dan permainan digital yang sangat membuat ketagihan, Made Taro melakukan perjalanan ke seluruh Bali dan sekitarnya, mengajar anak-anak tentang keajaiban permainan, lagu, dan cerita rakyat nasional. Dengarkan saat peraih UWRF Lifetime Achievement Award tahun ini mengisahkan hampir empat dekade perjalanannya dalam merayakan cerita rakyat dan dongeng lisan.

“Saya pernah berbincang dengan Made Taro pada awal tahun 2016. Saat itu, saya yang masih bekerja untuk media menghubungi beliau untuk mengatur wawancara. Bagi saya, Made Taro adalah sosok yang sangat berjasa dalam melestarikan dongeng lisan, khususnya di Bali. Beliau selalu berusaha menanamkan konsep Tri Hita Karana dalam setiap cerita rakyat dan dongeng lisannya. Lebih dari tiga tahun berlalu, tentu saja saya ingin kembali bertemu dan mendengar kisah-kisah menarik beliau.”

Cultural Workshop | Herb Walk

Pulau Bali ditumbuhi dengan pepohonan yang daunnya yang dapat disantap, dan banyak dari daun-daun ini ternyata sangat baik bagi kesehatan. Lokakarya ini akan memberikan Anda kesempatan untuk mengenal kekayaan alam terbaik yang tumbuh liar di sekitar kawasan Ubud. Pemandu kami, Lilir dan Westi, telah mempelajari Usada Bali, sebuah buku penyembuhan tradisional ala Bali, dan terlah menghabiskan banyak waktu untuk meneliti tumbuhan Bali dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari mereka.

“Ibu saya membaca buku-buku almarhum dr. Hembing Wijayakusuma hingga buku homeopati, dan membuat jamu hampir setiap hari untuk konsumsi pribadi. Sejak kecil hingga remaja, saya kerap diharuskan minum jamu buatan ibu meski saya tidak suka—tentu saja karena rasanya yang pahit dan aromanya yang menyengat. Belakangan ini, saya kerap berpikir bahwa ilmu tentang obat tradisional dan herbal seharusnya juga saya miliki. Setidaknya, pengetahuan dasar mengenai tanaman obat. Lokakarya budaya Herb Walk ini memberikan kesempatan bagi siapa saja yang tertarik ingin tahu lebih dalam mengenai tanaman obat, yang ternyata tumbuh melimpah di sekitar kita.”

Apakah kamu juga menyukai pilihan-pilihan program dari Tiara? Beli tiket 4-Day atau 1-Day Pass di link ini untuk mengikuti panel Main Program. Untuk Cultural Workshop, beli tiketnya di halaman individual. Sampai jumpa tanggal 23-27 Oktober mendatang!

Comments are closed.