Get Your Ticket SUPPORT NOW
Facebook Twitter Instagram Flickr

Obrolan Penulis Emerging Indonesia 2016: Nersalya Renata

Posted: 06 September 2016 Author: sikuska

Teks oleh Putu Aruni Bayu

Di tahun 2016 Ubud Writers & Readers Festival menyeleksi 16 penulis emerging Indonesia untuk hadir dan tampil di panggung sastra internasional tersebut bersama penulis, pegiat, dan kreator seni terbesar dunia. Ke-16 penulis emerging ini dipilih oleh tim kurasi yang terdiri dari Seno Gumira Ajidarma, Iswadi Pratama, dan Sonia Piscayanti. Mereka berhasil mengalahkan 894 penulis dari 201 kota di 33 provinsi Indonesia, tingginya angka tersebut menahbiskan seleksi tahun ini sebagai yang terbesar sepanjang sejarah seleksi.

UWRF menghadirkan seri “Obrolan Penulis Emerging Indonesia 2016”, di mana blogger UWRF, Putu Aruni Bayu akan melayangkan tujuh pertanyaan kepada masing-masing penulis emerging tersebut sebagai bentuk pemanasan menjelang bulan Oktober mendatang. Kini adalah giliran Nersalya Renata yang telah menerbitkan kumpulan puisi berjudul Lima Gambar di Langit-Langit Kamar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Putu Aruni.

UWRF16_Authors_Nersalya-Renata

Dari umur berapa Anda mulai menulis dan apa yang menginspirasi Anda ketika mulai menulis?

“Saya mulai menyukai puisi sejak duduk di bangku SD. Ada sebuah puisi dalam buku teks Bahasa Indonesia yang sangat saya ingat. Puisi itu berjudul “Hujan di Pagi Hari”, sayangnya saya tidak berhasil mengingat nama penyairnya. Hingga saat ini, setiap kali hujan di pagi hari, sajak ini akan terputar dalam kepala saya.

Saat SMU saya menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia dan dari sini saya mengenal sastrawan-sastrawan Indonesia yang karya-karyanya sangat saya kagumi. Sapardi Djoko Damono sangat mengispirasi saya lewat puisi berjudul Aku Ingin. Saya begitu tergila-gila pada puisi itu, sampai-sampai saya tulis ulang dengan tulisan tangan yang saya indah-indahkan, lalu saya tempel di bagian belakang pintu kamar, berjejer dengan poster artis-artis favorit saya kala itu.

Sejak itu saya mulai menulis puisi dengan tema percintaan dan persahabatan. Puisi-puisi saya sesekali terpampang di Mading (majalah dinding) sekolah. Saat itu saya gemar sekali menulis puisi secara akrostik, sebuah teknik yang saya kenal kemudian. Ketika itu saya juga memiliki kebiasaan menulis buku harian, maka saya selalu menulis puisi dalam buku harian.

Banyak hal yang menginspirasi saya untuk menulis puisi. Buat saya menulis puisi adalah mentransformasi segala hal yang kita serap dalam kehidupan ini. Segala serapan panca indra, pikiran, perasaan, ingatan, dan kegelisahan. Pengamatan kita pada interaksi antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, manusia dengan tumbuh-tumbuhan, binatang, juga benda-benda mati. Inspirasi bisa datang dari buku-buku, perbincangan, perjalanan,film, berita-berita, tempat, makanan, minuman, juga berbagai karya seni.”

Kapan pertama kali Anda mendengar tentang UWRF?

“Saya mengetahui UWRF sekitar 2005.”

Apa judul tulisan yang Anda ikut sertakan di seleksi Penulis Emerging Indonesia 2016 dan bisa ceritakan tentang tulisan tersebut?

“Buku yang saya ikut sertakan dalam seleksi adalah buku puisi pertama saya yang berjudul Lima Gambar di Langit-langit Kamar. Buku ini menghimpun puisi-puisi saya sejak tahun 2002 hingga 2014 yang disunting oleh Nukila Amal dan diterbitkan oleh AKAR Indonesia (Yogyakarta).”

Apa tema penulisan favorit Anda?

“Sebenarnya saat menulis saya tidak memiliki tema favorit atau mengkhususkan tema tertentu. Saya menulis tentang berbagai tema, namun tema ingatan dan peristiwa di wilayah domestik tanpa saya sadari menjadi “motif berulang” dalam tulisan-tulisan saya.”

Apa buku terakhir yang Anda baca?

“Buku terakhir yang saya baca adalah Satu Setengah Mata-mata karya Nirwan Dewanto. Buku ini berisikan esai-esai seni yang ditulis Nirwan Dewanto. Sebagian besar adalah esai-esai seni rupa, dan lainnya adalah esai seni pertunjukan. Buku ini memperkaya dan sedap dibaca bahkan untuk saya yang tidak terlalu paham perkembangan seni rupa di Indonesia maupun di dunia. Bahasanya sangat puitis dan terasa hangat.

Mungkin karena dalam menulis esai ini Nirwan melarutkan ingatan-ingatannya, biografinya, juga perasaa-perasaanya ketika berhadapan pada sebuah karya seni. Bagaimana ia menyelami sebuah lukisan misalnya. Selain meramu berdasarkan pengetahuan dan wawasannya yang luas, ia juga membubuhkan perasaan-perasaannya dalam memahami sebuah karya.”

Siapa penulis, pegiat seni, jurnalis, atau seniman yang ingin Anda ajak berbincang di UWRF 2016 pada Oktober mendatang?

“Elizabeth Inandiak, karena saya sangat tertarik dengan penelitiannya saat menulis kembali Serat Centhini.”

Pilih kopi atau teh

“Kopi, karena pagi, juga hari, tak mungkin dilalui tanpa kopi.”

Comments are closed.