fbpx

Kenali Penulis Emerging Indonesia 2019: Heru Sang Amurwabumi

Posted: 10 July 2019 Author: sikuska

Yayasan Mudra Swari Saraswati telah mengumumkan 5 nama pemenang Seleksi Penulis Emerging Indonesia untuk hadir di panggung perhelatan sastra Ubud Writers & Readers Festival pada bulan Oktober mendatang. Tim kurator Seleksi Penulis Emerging Indonesia tahun ini terdiri dari Leila S. Chudori, Warih Wisatsana, dan Putu Fajar Arcana. Ke-5 penulis emerging ini akan bergabung bersama para penulis, pegiat, dan kreator seni dari seluruh dunia. Karya-karyanya yang terpilih akan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dibukukan dalam Antologi 2019.

UWRF menghadirkan seri Kenali Penulis Emerging Indonesia 2019. Kami telah melayangkan beberapa pertanyaan kepada masing-masing Penulis Emerging untuk mengenali diri dan karya mereka lebih jauh. Untuk menutup seri blog ini, kami mengajak Anda untuk mengenal Heru Sang Amurwabumi dari Nganjuk, Jawa Timur.

Bisa ceritakan sedikit tentang diri Anda?

Heru Sang Amurwabumi, lahir di Nganjuk, Jawa Timur 39 tahun silam. Lelaki pecinta Wayang Kulit yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki, saat ini bekerja sebagai buruh pabrik makanan ringan.

Ceritakan momen saat Anda menerima kabar bahwa Anda merupakan salah satu penulis emerging terpilih UWRF19.

Seperti mimpi. Sampai email resmi saya terima, saya masih belum percaya. Kabar yang kemudian saya bagikan kebahagiaannya dengan seluruh keluarga dan teman-teman di Komunitas One Day One Post yang saya ikuti.

Apakah judul karya terpilih Anda dalam seleksi ini? Ceritakan kisah di balik proses penulisannya.

Mahapralaya Bubat. Sebuah fiksi sejarah yang saya tulis untuk meluruskan mitos bahwa pernikahan antara suku Jawa dan Sunda adalah terlarang dan membuahkan karma. Melalui karya ini saya juga ingin menepis anggapan bahwa tokoh Gajah Mada, Patih terbesar Majapahit adalah seorang Muslim.

Setelah menjadi salah satu penulis emerging terpilih UWRF19, apakah minat Anda untuk menekuni dunia kepenulisan semakin besar?

Sangat besar. Saya berharap ini awal dari upaya saya mewujudkan mimpi untuk menjadi seorang penulis profesional.

Siapa saja tokoh sastra atau orang yang menginspirasi dan memengaruhi gaya menulis Anda?

Langit Krisna Hariadi dan Damar Shasangka.

Apa yang biasa Anda lakukan saat mengalami ‘writer’s block’ atau kebuntuan dalam menulis?

Mengunjungi tempat-tempat atau situs bersejarah.

Berkaitan dengan tema UWRF19 yaitu Karma, bagaimana Anda memaknai hal tersebut?

Orang Jawa mengatakan sapa nandur bakale ngunduh—siapa menanam akan menuai hasil. Saya mempercayai itu.

Buku apa yang selalu ingin Anda baca tetapi hingga saat ini belum juga Anda baca?

Serat Centini

Comments are closed.