fbpx

Kenali Penulis Emerging Indonesia 2017: Aksan Taqwin Embe

Posted: 02 August 2017 Author: sikuska

Di tahun 2017 Ubud Writers & Readers Festival menyeleksi 15 Penulis Emerging Indonesia untuk hadir dan tampil di panggung sastra internasional tersebut bersama penulis, pegiat, dan kreator seni terbesar dunia. Selain itu, karya-karya yang terpilih akan diterjemahkan ke bahasa Inggris dan diterbitkan dalam buku Anthology 2017. Ke-15 Penulis Emerging ini dipilih oleh tim kurasi yang terdiri dari Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, dan Warih Wisatsana. 

UWRF menghadirkan seri Kenali Penulis Emerging Indonesia 2017, di mana blogger UWRF, Putu Aruni Bayu akan melayangkan beberapa pertanyaan kepada masing-masing Penulis Emerging tersebut untuk mengenali mereka dan karya mereka lebih jauh. Kali ini Aksan Taqwin Embe yang berasal dari Tangerang, Banten akan menceritakan bagaimana ia berusaha untuk tetap menulis di antara kesibukannya menjadi guru di sebuah pondok pesantren.

 

Bisa ceritakan sedikit tentang diri Anda?

Saya lahir di Lamongan, namun tinggal dan menjadi penduduk Tangerang semenjak menikah pada tahun 2014 lalu. Aksan Taqwin adalah asli saya, sementara Embe adalah bermula dari 2 huruf (MB) nama ibu dan bapak saya. Saya mengabdi sebagai Guru di Pondok Pesantren Daar eL-Qolam Program Excellent Class Tangerang sejak tahun 2013. Meskipun saya nyaris tidak memiliki waktu untuk menulis kecuali tengah malam, saya selalu menjalankannya dengan bahagia dan masih menyempatkan menulis di sela-sela waktu luang, meski barang satu paragraf atau menulis melalui ponsel pintar sekalipun.  Dari pagi sampai sore saya harus mengajar formal pelajaran Bahasa Indonesia di dalam kelas. Setelah itu, sore hari seusai Ashar saya mengawasi dan membina anak-anak yang tergabung dalam ekstrakurikuler kesenian dan jurnalistik dan kelas proses kreatif fiksi. Seusai Maghrib saya harus mengajar ngaji qur’an sampai azan Isya. Setelahnya saya harus mengawasi anak-anak belajar malam pelajaran untuk esok hari. Putaran-putaran aktivitas itu saya lakoni setiap hari. Saya tetap sangat bersyukur masih bisa menyempatkan menuliskan ide-ide yang berkelebat.

Apakah masih ingat momen di mana Anda menerima berita bahwa Anda terpilih sebagai salah satu dari 15 Penulis Emerging Indonesia 2017? Ceritakan pada kami.

Momen ini tidak mampu saya lupakan begitu saja. Sebab ini adalah momen yang sangat mengesankan. Saya mendapat telepon dari panitia UWRF 2017 ketika saya sedang bersama anak dan istri berbelanja kebutuhan pokok di swalayan. Ketika itu swalayan sangat ramai, maka ketika panitia mengabarkan bahwa naskah saya lolos sebagai salah satu pemenang Penulis Emerging 2017, saya tidak mampu teriak atas kebahagiaan itu, karena kalau teriak saya harus menanggung malu di mata para pengunjung swalayan yang lalu lalang. AKhirnya saya hanya berbisik kepada istri perihal lolosnya naskah saya.

Apa judul tulisan Anda yang terpilih? Dan apakah ada kisah di balik tulisan tersebut?

Judulnya Racik Kopi. Saya terinspirasi dari kota kelahiran saya. Di Lamongan terutama di pesisir, warung kopi didominasi oleh perempuan-perempuan sebagai tukang seduh dan teman bicara untuk pengunjung. Sebenarnya pengunjung bukan hanya sekadar datang untuk menikmati segelas kopi, namun tujuan utamanya adalah untuk duduk dan bicara bareng perempuan penyeduh kopi. Tidak heran para penyeduh kopi selalu memperbaiki penampilan dan memoles diri untuk memikat para pengunjung. Bermula dari itulah cerpen ini lahir.

Kapan pertama kali Anda mendengar tentang seleksi Penulis Emerging Indonesia?

Tahun 2012 silam, saat saya masih duduk di bangku kuliah semester akhir.

Sudah berapa lama Anda menulis dan siapa yang menginspirasi tulisan Anda?

Sejak tahun 2007. Itu adalah tahun yang sangat menggelikan dan menyedihkan. Saya baru belajar menulis, tapi sudah terobsesi ingin dimuat di tabloid nasional. Tabloid tersebut menolak naskah saya, jadilah saya merasa minder dan tidak ingin menulis lagi. Saya mencoba kembali di tahun 2008, ketika itu salah satu dosen saya telah meminta puisi saya untuk dimuat di majalah Pemda Tuban dengan honor 35 ribu. Dari situlah kesedihan saya tergerus dan menulis kembali sampai sekarang. Inspirasi saya adalah anak dan istri. Kehidupan sehari-hari sering saya lumat menjadi sebuah tulisan yang kemudian saya ekplorasi menjadi hal-hal yang absurd. Inspirasi lain dalam eksplorasi ide dan pengolahan sebuah karya adalah Seno Gumira Ajidarma, Gerson Poyk, Triyanto Triwikromo, dan beberapa lainnya.

Apakah asal muasal Anda turut berperan dalam tulisan-tulisan yang Anda hasilkan?

Lebih sering tidak, terkadang iya. Hanya saja saya merasa malu ketika harus menuliskan dan membentuk sebuah karya yang bermula dari apa yang saya lakukan atau alami.

Beritahu kami di mana tempat favorit Anda untuk menulis di kota tempat Anda tinggal, dan apa alasannya?

Kamar sebagai tempat favorit saya dalam melahirkan karya. Saya tidak memiliki tempat favorit untuk menulis selain di dalam kamar. Kesepian dan keheningan di dalam kamar membuat saya merdeka menciptakan sebuah karya.

Apa yang ingin Anda lakukan dan lihat di UWRF17 bulan Oktober mendatang?

Menghadiri diskusi-diskusi sastra yang saya rasa menarik dan langka saya temui. Berbicara panjang lebar dan ngopi bareng penulis yang hadir dalam acara UWRF 2017. Semua rangkaian acara UWRF pasti menarik dan sangat sayang jika ditinggalkan.

Jika Anda harus terjebak di sebuah pulau terpencil hanya dengan satu buku, buku apakah itu?

Buku harian. Saya memiliki buku harian yang mencatat segala perjalanan atau ide-ide yang saya temukan. Buku harian itu akan melahirkan karya yang utuh.

Apa saja yang ada di tas Anda saat ini?

Buku harian, botol minuman, novel, flashdisk, pulpen, spidol, buku ajar, koreksian peserta didik, dan doa-doa keselamatan dari orangtua dan istri dalam setiap perjalanan.

Comments are closed.