fbpx

Festival Favorites: IGA Darma Putra

Posted: 26 September 2019 Author: sikuska

Dengan lebih dari 180 pembicara dari 30 negara, lineup UWRF tahun ini sangatlah beragam. Setiap minggu menjelang UWRF19, kami berbincang dengan seorang penulis atau pembicara yang barangkali karyanya belum Anda kenal, tetapi bisa saja menjadi favorit Anda saat Festival. Minggu ini kami mendengar dari IGA Darma Putra asal Bagli, Bali. Koleksi prosa liriknya Bulan Sisi Kauh (2017) memenangkan Penghargaan Sastra Rancage pada tahun 2018.

Kapan dan apa yang membuat Anda mulai menulis?

Saya mulai menulis saat di tingkat Sekolah Dasar, waktu itu karena ada lomba mengarang yang diselenggarakan antar sekolah di kampung. Setelah itu, saya belajar menulis sendiri, tidak ada media yang bisa diakses untuk mengirim tulisan waktu itu, karena saya tinggal di kampung. Saat kuliah di perguruan tinggi, saya mulai menemukan media koran dan majalah. Ke sana saya kirim tulisan-tulisan itu. Saya menulis hanya karena bahagia melakukannya.

Apa pencapaian tertinggi yang telah Anda peroleh selama Anda berkarya atau berproses selama ini?

Banyak orang yang saya temui dalam proses tulis-menulis. Semua orang itu adalah guru kehidupan. Pencapaian tertinggi saya adalah bertemu dengan guru-guru itu. Selain itu, kebetulan saya menjadi salah satu orang beruntung yang mendapat anugerah sastra Rancage tahun 2018. Saya senang waktu itu, karena ternyata ada yang peduli pada karya sastra daerah, meski bukan di daerahnya.

UWRF19 akan mengangkat tema Karma. Apa makna Karma bagi Anda?

Karma adalah karma. Saya belum paham maknanya. Yang saya pernah dengar dan baca, karma selalu berhubungan dengan tubuh, waktu, ikatan dan cara melepaskannya.

Isu dan topik apa saja yang ingin Anda eksplor selama UWRF19?

Jika Karma adalah tema UWRF19, saya pikir mengeksplor tema itu sudah sangat mengasyikkan. Saya ingin melihat tema itu dari sudut pandang tradisi Bali.

Siapa yang Anda harapkan menjadi audiens panel diskusi Anda di UWRF19?

Saya tidak pernah bisa memetakan orang yang ingin saya ajak berdiskusi, karena semua orang memiliki cara pandang tertentu untuk memandang sesuatu. Karena cara pandang yang berbeda, tentu beda juga yang dilihat. Beda yang dilihat, beda juga penafsirannya. Beda penafsiran, beda pula yang diyakini. Beda keyakinan, beda cara memperlakukan. Manusia dengan segala problematikanya itu selalu menarik untuk diajak berdiskusi.

Adakah pesan yang ingin disampaikan untuk mereka yang berminat menekuni dunia kepenulisan?

Seperti yang saya katakan tadi, saya menulis karena saya bahagia melakukannya. Jadi menulislah terus-menerus karena ini membahagiakan. Jika belum menulis, maka mulailah dari sekarang.

Manakah karya Anda yang paling Anda rekomendasikan untuk diketahui oleh mereka yang sebelumnya belum terlalu mengenal karya-karya Anda?

Buku yang saya tulis berjudul Bulan Sisi Kauh. Buku itu adalah kumpulan prosa liris berbahasa Bali. Bagi pembaca yang kurang fasih dalam bahasa itu, tentu akan kesulitan. Dalam bahasa Indonesia, tulisan saya dimuat dalam majalah Wartam dalam seri bernama Cakil (Catatan Kecil). Tulisan yang lain adalah seri Sekar Sumawur dan Cangak yang dimuat di tatkala.co. Saya pikir, ketiga tulisan itu bisa dibaca-baca dan dikritisi.

Adakah proyek atau karya terbaru yang sedang Anda kerjakan saat ini? Bisakah diceritakan sedikit kepada kami?

Setahun belakangan ini, saya sedang mengumpulkan nama-nama Padma yang dimuat dalam lontar-lontar yang diwarisi di Bali. Padma adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan peta geografis dan mistis. Peta itu menunjukkan ada cara pandang khusus tentang semesta dan tubuh dalam tradisi Bali. Saya berharap, kumpulan istilah Padma itu bisa dimanfaatkan nanti.

IGA Darma Putra adalah bagian dari dua panel Main Program, yaitu Enlightenment for All dan Bali’s Poet-Priests. Dapatkan tiket 4-Day Pass atau 1-Day Pass di sini. Anda bisa mengikuti IGA Darma Putra di Instagram.

Comments are closed.