Kenali Penulis Emerging Indonesia 2017: Na’imatur Rofiqoh

Posted: 10 August 2017 Author: sikuska

Di tahun 2017 Ubud Writers & Readers Festival menyeleksi 15 Penulis Emerging Indonesia untuk hadir dan tampil di panggung sastra internasional tersebut bersama penulis, pegiat, dan kreator seni terbesar dunia. Selain itu, karya-karya yang terpilih akan diterjemahkan ke bahasa Inggris dan diterbitkan dalam buku Anthology 2017. Ke-15 Penulis Emerging ini dipilih oleh tim kurasi yang terdiri dari Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, dan Warih Wisatsana. 

UWRF menghadirkan seri Kenali Penulis Emerging Indonesia 2017, di mana blogger UWRF, Putu Aruni Bayu akan melayangkan beberapa pertanyaan kepada masing-masing Penulis Emerging tersebut untuk mengenali mereka dan karya mereka lebih jauh. Hari ini, wanita berusia 23 tahun asal Ponorogo, Jawa Timur, akan berbincang lebih jauh mengenai dirinya.

Bisa ceritakan sedikit tentang diri Anda?

Saya lahir di Kebumen dan menghabiskan masa remaja di Ponorogo. Saya baru saja lulus dari Universitas Sebelas Maret dengan meneliti Bobo sebagai skripsi. Saya mengoleksi ratusan buku lawas dan baru, bundel-bundel lawas majalah Bobo dan Kuncung yang sebagian besar masih gagal terbaca tuntas. Bapak yang pertama kali mengenalkan saya pada kata. Lalu, buku cerita pertama yang saya miliki (karena sebelumnya selalu pinjaman koleksi perpustakaan sekolah) adalah Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, dibelikan Ibu untuk ulang tahun ke-12. Buku pertama yang terbit adalah kumpulan esai berjudul Asmara Bermata Bahasa. Sekarang nekat menjalani hari-hari sebagai Ilustrator lepas dan Penulis (Semoga! Aku masih belum teruji waktu untuk disebut sebagai penulis).

Apakah masih ingat momen di mana Anda menerima berita bahwa Anda terpilih sebagai salah satu dari 15 Penulis Emerging Indonesia 2017? Ceritakan pada kami.

Saat itu saya sedang tidur siang, lalu suara mantap dan merdu di telepon yang mengabarkan bahwa saya terpilih sebagai salah satu Penulis Emerging membangunkan saya dari tidur. Kabar itu baru terasa mengagetkan setelah beberapa menit telepon ditutup. Saya masih duduk di kasur, bengong, lalu senyum-senyum aneh, masih tidak percaya.

Apa judul tulisan Anda yang terpilih? Dan apakah ada kisah di balik tulisan tersebut?

Judulnya adalah Benda-Benda Berbahasa. Esai itu mulanya saya tulis untuk Kompetisi Bahasa Indonesia yang diadakan oleh kampus akhir November tahun lalu. Saya dan empat teman lain menjalani karantina selama hampir seminggu di Bilik Literasi, rumah buku di Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Itu hari-hari penuh ‘teror’ huruf dan kata. Setiap hari, kami mesti berhadapan dengan tumpukan referensi buku-buku, koran, atau majalah lawas. Pikiran mampet terselamatkan oleh obrolan-obrolan lanjutan dengan teman-teman bersama rujak, es jeruk, teh hangat, dan gorengan. Kenekatan menulis  terbayar oleh keberhasilan menulis esai panjang mencapai 5000 kata. Haleluya! Esai-esai tak selesai saat lomba. Lima esai bahasa itu diterbitkan oleh Jagat Abjad pada tahun sama dengan judul Penimba Bahasa.

Kapan pertama kali Anda mendengar tentang seleksi Penulis Emerging Indonesia?

Kira-kira dua atau tiga tahun lalu saat UWRF mengadakan acara obrolan di Balai Soedjatmoko, Surakarta.

Sudah berapa lama Anda menulis dan siapa yang menginspirasi tulisan Anda?

Kira-kira delapan tahun yang lalu, saat masih SMA. Waktu itu, saya menulis di blog. Tulisan-tulisan masih berkisah tentang keseharian dengan bahasa ala remaja Indonesia masa itu. Saya ingat waktu itu sedang menggemari Raditya Dika dan ingin pula mendokumentasikan tulisan di blog. Kata ‘menginspirasi’ rasanya kurang tepat, namun pasnya, teman-teman di Bilik Literasi dengan obrolan-obrolan, teh, dan gorengan, juga pamer tulisan dan buku-bukulah yang akhirnya ‘memaksa’ saya ikut menulis dan meneguhkan iman literasi.

Apakah asal muasal Anda turut berperan dalam tulisan-tulisan yang Anda hasilkan?

Tidak terlalu, karena biografi intelektual saya dapat dikatakan baru bermula saat kuliah di Surakarta hampir lima tahun lalu, terutama saat saya bertemu dan sinau dengan teman-teman Bilik Literasi. Ponorogo rasanya tetap agak sulit memberi pengaruh besar dalam perkembangan tulisan-tulisan saya, bukan saja karena akses buku-buku beragam yang masih lebih sulit dibanding Surakarta, tetapi juga ketiadaan peristiwa-peristiwa literasi yang bisa sering dijumpai di sana.

Beritahu kami di mana tempat favorit Anda untuk menulis di kota tempat Anda tinggal, dan apa alasannya?

Di kamar kos. Tentu saja karena hari hari saya banyak dihabiskan di sana. Rasanya lebih enak bisa menulis memakai kaus oblong dan celana kolor, yang tak mungkin bisa saya lakukan di tempat lain. Yang penting sudah mandi. Lagipula, di hadapan kata, yang lebih diperlukan tentu otak yang bahenol ketimbang wajah berhias dempul tebal. Hahaha.

Apa yang ingin Anda lakukan dan lihat di UWRF17 bulan Oktober mendatang?

Bertemu dan ngobrol seru dengan para pembaca buku-buku, menonton film-film bagus, pertunjukan seni memukau, mendapatkan tambahan teman, dan siapa tahu, tambahan banyak buku juga!

Buku apa yang saat ini sedang Anda baca?

Namaku Asher Lev karangan Chaim Potok.

Apa saja yang ada di tas Anda saat ini?

Map berisi persyaratan wisuda, buku sketsa, alat tulis, sebuah buku berjudul Petunjuk Mengarang Ceritera Anak-Anak oleh Marcus A S, dompet, telepon (agak) pintar, gincu, flashdisk, pengisi daya, mukena, dan (tadinya, sebelum saya mengeluarkannya untuk mengetik wawancara ini) netbook.

Comments are closed.