SUPPORT NOW
Facebook Twitter Instagram Flickr LinkedIn

Cerita Volunteer dari Puput Palipuring Tyas

Posted: 02 August 2016 Author: sikuska

Anggara Mahendra_18.00-23.00_Arma Museum_Closing Night Party_311

Teks oleh Putu Aruni Bayu

Setiap tahunnya penyelenggaraan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) selalu didukung oleh bantuan dari tim volunteer. Mereka datang dari hampir seluruh kota di Indonesia dan dari beberapa negara lainnya, bekerja sukarela demi memastikan bahwa perhelatan sastra dan seni dengan pengunjung terbesar di Asia Tenggara ini berjalan sempurna.

Bersamaan dengan dibukanya aplikasi volunteer UWRF 2016 hari ini, Blogger UWRF, Putu Aruni Bayu mencatatkan obrolan singkatnya dengan Puput Palipuring Tyas yang pertama kali menjadi volunteer di tahun 2013. Puput saat ini tinggal di Gresik, Jawa Timur, berprofesi sebagai Food Copywriter dan Storyteller. Di antara kesibukannya ia juga menikmati peran sebagai volunteer pendidikan dan kesenian.

Bagaimana awal cerita Puput menjadi volunteer UWRF?

 “Saya dengar dari teman kalau di Bali ada festival sastra internasional yang menghadirkan penulis-penulis terkenal. Saya tertarik sekali dan mulai mengumpulkan informasi sendiri karena teman saya tersebut belum punya nyali untuk ambil bagian dalam UWRF. Hampir tiap hari saya kepoin sosial media dan situs UWRF hingga akhirnya memberanikan diri mendaftar. Suatu hari di bulan Agustus 2013 saya dinyatakan lolos tanpa masuk daftar tunggu, rasanya lebih dari senang. Sejak itu saya merasa akan ‘berjodoh’ dengan festival ini. UWRF selalu ada di hati saya, terjalin seperti sebuah ikatan. Padahal awalnya saya tidak punya ekspektasi lebih, hanya ingin mengenal penulis favorit saya dari dekat, namun ternyata UWRF memberikan banyak hal yang bahkan berada di luar ekspektasi saya sebelumnya.”

Apa yang paling Puput suka dari menjadi volunteer di UWRF?

“Menjadi volunteer UWRF adalah suatu kehormatan bagi saya. Bisa membaur dengan orang-orang hebat, mulai dari staff UWRF hingga artis dan penulis idola. Tidak hanya bertemu, berfoto, dan berdiskusi dengan mereka, UWRF juga memungkinkan volunteer-nya bersentuhan langsung dengan jantung festival, menjadi bagian penting (tidak hanya sebagai tim hore), dan menjalin kerjasama profesional dengan penulis-penulis besar. Kita tidak dianggap sebagai ‘sukarelawan’ yang tidak berharga, tapi kita betul-betul dihargai sebagai partner untuk bersinergi. Selain itu, tim UWRF juga rendah hati dan menyenangkan, seperti keluarga sendiri. Mereka tidak sembarang memberikan perintah, itu yang selalu membuat saya rindu Ubud dan UWRF, sebab saya merasa punya ‘keluarga’ di sana. Bagi saya, datang ke UWRF terasa seperti mudik Lebaran, karena sudah jadi agenda wajib dan sakral tahunan.”

Apa pengalaman Puput selama menjadi volunteer UWRF?

 “Banyak! Sebab setiap hal yang saya lewati bersama UWRF adalah momen seru yang tidak akan pernah terulang. Kalau diingat-ingat lagi, saya berterima kasih pada UWRF yang berhasil mempertemukan saya dengan sahabat terbaik saya, Mel Ara, sesama volunteer UWRF asal Tangerang. Awalnya saya kenal dia dari dunia maya dan kami berjanji bertemu di Ubud untuk mewujudkan mimpi kami menjadi bagian dalam UWRF. Hal ini menjadi bukti bahwa UWRF juga merupakan rumah bagi siapapun yang ingin berjumpa keluarga kedua. Selain itu, saya sangat berterima kasih pada UWRF atas kesempatan yang diberikan sehingga bisa mengenal lebih dekat penulis-penulis besar yang sangat saya idolakan. Tak pernah terbayang bisa bekerjasama dan menjalin keakraban dengan nama-nama terkenal. Sebagai Writers Liaison, saya kerap jalan-jalan, bertukar pikiran, dan ngobrol ringan dengan para penulis besar tersebut, dan efeknya sangat luar biasa.

Dari obrolan-obrolan itu saya bisa mengenal lebih dalam profil, proses kreatif, dan belajar dari kisah hidup mereka. Sungguh saya ucapkan terima kasih kepada beberapa nama besar yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu atas kebaikan mereka membagi ilmu untuk saya. Di samping sebagai ‘rumah’, UWRF laksana sekolah yang menempa pengetahuan dan membuka mata saya, khususnya dalam bidang sastra. Didukung tim yang sangat luar biasa baiknya, setiap kehadiran saya di sana serasa disambut keluarga! Tidak heran saya aktif membagikan pengalaman bahagia ini pada lingkungan sekitar dan mengajak mereka menjadi bagian dari volunteer UWRF.”

Apakah Puput ada pesan-pesan untuk mereka yang akan menjadi volunteer UWRF untuk pertama kali?

 “Menjadi volunteer adalah panggilan jiwa, bekerja sukarela, tak dibayar dengan uang, namun justru karena itulah kita mendapat manfaat yang tak bisa diuangkan. Pilih bidang kerja yang sesuai dengan kegemaran agar bisa bertugas secara maksimal dan menyenangkan. Jangan sungkan berbagi dengan rekan sesama volunteer karena mereka adalah orang-orang yang menyenangkan. Buka hati dan pikiran seluas-luasnya untuk menerima ilmu sebanyak-banyaknya dan meskipun pekerjaan ini tidak dibayar, Anda juga harus bertanggung jawab serta disiplin dalam menjalankan tugas. Komitmen itu wajib hukumnya!

Terima kasih Puput untuk obrolan seputar volunteer UWRF-nya. Apakah Puput akan kembali lagi menjadi volunteer UWRF di tahun 2016 ini?

 “Tentu saja! Sampai jumpa di Ubud bulan Oktober mendatang!”

Comments are closed.