Indonesian News
Surat Berkala
Penghormatan untuk Rendra
Panitia, manajemen dan karyawan Festival Penulis & Pembaca Ubud turut berdukacita atas meninggalnya WS Rendra, sang seniman akbar.
Rendra, penyair dan komentator budaya, aktifis HAM dan penulis naskah drama, merupakan salah satu tokoh yang amat mengesankan di dalam kesusasteraan Indonesia. Penuh warna dan karismatik, beliau memukau audiensnya di seluruh dunia dengan pembacaannya, hasratnya, dan kehadirannya.
Sumbangsih beliau sampai akhir hayatnya kepada kesenian dan kesusasteraan tak akan terlupakan, dan kami akan menunjukkan penghargaan dengan mengenang beliau. Masyarakat sastra mancanegara berkurang karena kepergiannya, namun diperkaya karena peninggalannya.
Festival Penulis & Pembaca Ubud akan memberikan sebuah persembahan untuk Rendra dalam “Mengenang Sang Burung Merak” pada Kamis, 8 Oktober.
Penyair ternama Bali, Warih Wisatsana, akan menyampaikan sebuah elegi untuk mengenang Rendra, untuk mengingatkan generasi penerus penulis Indonesia akan sumbangsihnya kepada negeri ini dan peninggalannya. Pembacaan karya-karya Rendra akan mengingatkan kita bahwa ketika seorang penyair, siapapun itu, meninggalkan dunia ini, karya mereka abadi.
- – - – - – - – - – - – - – - – — – - – - – - – - – - – - – - - -
Om Swastiastu,
Program Ubud Writers & Readers Festival 2009 merupakan saat untuk berkumpul, dan limpahnya ragam sesi panel, pembacaan, peluncuran buku, makan siang sastra, acara kumpul-kumpul malam serta lokakarya sedang dipersiapkan secepat musik yang mengiringi Tari Legong untuk menciptakan acara yang akan mempesonakan Anda.
Dengan tema ‘Suka Duka’ yang akan menghantar kami, beberapa penulis terbaik dari 23 negara akan berkumpul untuk mendiskusikan tema-tema besar jaman kita, yaitu agama, identitas, peninggalan kebrutalan kolonial dan suara pascakolonial, HAM, ras dan identitas, pengasingan, jender, penyensoran, ekspresi sastra dan keadaan.
Pembicaraan utama dan perdana kami, selama 4 hari akan menggelar sesi panel, debat, pembacaan dan bincang-bincang dengan para penulis yang terbaik di bidangnya di dunia. Dengarkanlah Wole Soyinka, orang Afrika pertama yang menerima Hadiah Nobel untuk kesusastraan, mendiskusikan masa hidupnya dalam pekerjaan dan kehumanitarianan; temuilah Fatima Bhutto, sang penyair, wartawan dan novelis yang lantang asal Pakistan, biarkanlah diri Anda terpukau oleh para penyair wanita dengan antologi mereka Not A Muse, jelajahilah empati Lloyd Jones yang menyesakkan hati dalam fabel militer yang berlokasi di Bougainville, Mr Pip, temukanlah Dany Laferriere yang eksentrik dan tak bisa ditebak, dan pecahkanlah kasus A Case of Exploding Mangoes (Ind: Kasus Mangga Yang Meledak) karya Mohammed Hanif.
Perluaslah wawasan Anda dengan grup penulis Afrika yang luar biasa asal Nigeria, Kenya, Zimbabwe dan Mesir.
Kami memberikan persembahan khusus untuk kesusastraan Asia, dan mengumpulkan para penulis yang berbakat dan terkenal dari wilayah ini, termasuk Seno Gumira Ajidarma, Tom Cho, Ng Yi Sheng, Amir Muhammad, NH Dini, Shamini Flint, Wena Poon, Woon Tai Ho, Asitha Ameresekere dan Dede Oetomo.
Dan tentu saja, dalam tradisi Ubud yang akbar, para penulis juga akan bersantai dengan program yang penuh dengan pertunjukan, pembacaan drama, musik dan lagu, film, humor, dan tentu saja, makanan.
Dengan banyaknya penulis kita yang memiliki hasrat yang dalam akan masakan, program festival ini merupakan perjamuan acara sastra yang berpindah-pindah, dari satu hotel ke hotel lain, restoran ke restoran lain, dan rumah pribadi ke rumah pribadi lain, yang semuanya paling spektakuler di Ubud. Para Master Chef Prosa dan Puisi akan memamerkan para pengarang, penyair, penulis naskah drama pemenang penghargaan, serta resep-resep favorit mereka termasuk masakan-masakan dari Burma sampai Zimbabwe, Sri Lanka sampai Pakistan. Rahasia dan kisah keluarga mereka akan dibeberkan, atau mungkin lebih tepatnya terungkap, di tepi sawah sambil menikmati extravaganza dunia yang terdiri dari makanan pembuka, utama, dan penutup.
Dan tetaplah bersama kami untuk rilis program lokakarya kami yang terbentang luas – apa saja: dari penulisan film, makanan, olahraga dan kisah perjalanan, sampai ke puisi, kenangan, penyuntingan dan apa yang harus dilakukan kalau Anda sudah mentok.
Rincian program, acara-acara khusus dan program lokakarya akan dirilis pada 17 Agustus
Ini hanyalah sekeping dari program Ubud Writers & Readers Festival yang berani berbeda dan tak pernah gagal menyukakan hati Anda…
Sampai jumpa di sana.
Seno Gumira Ajidarma
Festival tahun ini akan dimeriahkan dengan kehadiran beberapa pengarang Indonesia yang paling ternama, termasuk penulis cerpen dan esai pemenang penghargaan Seno Gumira Ajidarma.
Awalnya, Seno memberitahu Wayan Juniartha, Koordinator Program Penulis Indonesia, bahwa ia lebih suka menjadi “pendengar daripada pembicara” pada Festival ini. Namun, setelah debat yang panas melalui SMS mengenai sifat dasar kekerasan dan belas kasihan, akhirnya Seno setuju tampil dan berbicara pada Festival ini.
Seno dikenal sebagai pengarang, wartawan dan dosen yang tak kenal lelah, memiliki gelar PhD dalam Kesusasteraan, dan pernah mengajar di beberapa universitas terbaik di negeri ini.
Seno adalah penerima SEA Write Award pada 1987 dan Dinny O’Hearn Prize untuk Penerjemahan Sastra pada 1997. Ia dianugerahi penghargaan yang paling bergengsi di Indonesia, yaitu Penghargaan Khatulistiwa, selama dua tahun berturut-turut: 2004 dan 2005.
Karya-karyanya menampilkan topik-topik yang membahas berbagai dinamika sosial, politik dan budaya negeri ini, dari eksekusi jalanan yang tidak digubris oleh pemerintah di dalam bukunya Penembak Misterius, sampai kekerasan di Timor Timur di dalam bukunya Saksi Mata, sampai Wisanggeni, Sang Buronan, sebuah versi kontemporer dari tradisi kuno.
Seno menulis karya fiksi dan non-fiksi dengan kefasihan yang setara, keterusterangan dan pendekatan-pendekatan yang tidak lazim. Salah satu karya non-fiksinya adalah Sembilan Wali dan Syekh Siti Jenar, peninjauan yang berani akan mitos dan fakta seputar tokoh-tokoh Muslim yang disegani di Jawa.
Saat ini, ia sedang menulis Naga Bumi, sebuah cerita yang diterbitkan secara berseri di Harian Suara Merdeka. Naga Bumi membawa Seno kembali ke genre yang selalu ia gemari, yaitu genre Cerita Silat, yang berpusat pada para master seni bela diri. Setiap hari ia menulis satu episode, yang dicetak dan dimuat di surat kabar itu pada edisi keesokan harinya.


