Kenali Penulis Emerging Indonesia 2019: Nurillah Achmad

Posted: 09 July 2019 Author: sikuska

Yayasan Mudra Swari Saraswati telah mengumumkan 5 nama pemenang Seleksi Penulis Emerging Indonesia untuk hadir di panggung perhelatan sastra Ubud Writers & Readers Festival pada bulan Oktober mendatang. Tim kurator Seleksi Penulis Emerging Indonesia tahun ini terdiri dari Leila S. Chudori, Warih Wisatsana, dan Putu Fajar Arcana. Ke-5 penulis emerging ini akan bergabung bersama para penulis, pegiat, dan kreator seni dari seluruh dunia. Karya-karyanya yang terpilih akan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dibukukan dalam Antologi 2019.

UWRF menghadirkan seri Kenali Penulis Emerging Indonesia 2019. Kami telah melayangkan beberapa pertanyaan kepada masing-masing Penulis Emerging untuk mengenali diri dan karya mereka lebih jauh. Pada seri blog ini, kami mengajak Anda untuk mengenal Nurillah Achmad dari Jember, Jawa Timur.

Bisa ceritakan sedikit tentang diri Anda?

Saya bukan orang baik, tetapi dikelilingi orang-orang baik.

Kapan dan dari mana Anda mendengar tentang Seleksi Penulis Emerging Indonesia?

Ketika menyantri di TMI Putri Al-Amien Prenduan, Sumenep. Kalau tidak salah, pada tahun 2013 saat masa pengabdian. Kebetulan saya tergabung dalam kelompok minat tulis-menulis yang rutin memberi informasi terkait lomba atau festival.

Ceritakan momen saat Anda menerima kabar bahwa Anda merupakan salah satu penulis emerging terpilih UWRF19.

Ini adalah momen yang akan selalu saya ingat selain masa-masa awal masuk pesantren. Hahaha. Jadi, pada Rabu, 19 Juni 2019 ada 5 panggilan tidak terjawab karena saya tidak memegang hape. Setelah dilihat, ternyata kodenya (0361). Saya mengira-ngira begini. Kalau Jember kodenya (0331) kemungkinan nomor tersebut area timur. Saya menyangka dari area Banyuwangi karena beberapa kali saya mengirim cerpen ke Radar Banyuwangi atau dari beberapa teman yang bekerja di sebuah instansi. Pernah terbesit daerah Bali, tetapi saya yakin tidak mungkin dari pihak Ubud. Malamnya saya mengecek e-mail ternyata ada pesan dari Mbak Sarrah Monessa yang menanyakan nomor lain. Saya makin bingung. Keesokannya, hape itu  saya bawa ke mana-mana. Tak di dapur, tak di kamar mandi, saya taruh di saku. Dan ternyata benar, Mbak Sarrah Monessa mengabari saya kalau ternyata lolos seleksi. Ya, saya jingkrak-jingkrak di samping kamar mandi.

Apakah judul karya terpilih Anda dalam seleksi ini? Ceritakan kisah di balik proses penulisannya.

Sebetulnya posisi saya menulis Pada Hari Ketika Malam Lelap di Pangkuannya masih belum tahu kalau seleksi UWRF dibuka. Nah, saat masa pengendapan tulisan, saya dapat kabar dari grup WA. Saat dibaca seksama, ternyata cerpen ini cocok dengan kriteria. Ya, saya edit. Endap lagi, edit lagi. Tapi seringkali berhenti karena tidak 100% percaya diri. Tidak yakin ngirim tidaknya.

Siapa saja tokoh sastra atau orang yang menginspirasi dan memengaruhi gaya menulis Anda?

Ada banyak penulis yang saya kagumi, dan itu memiliki tempat tersendiri. Semisal, sosok yang menginspirasi sekaligus membuat saya menyukai sastra adalah Taufik Ismail, Iman Soleh, Joni Ariadinata, D. Zawawi Imron dan Jamal D. Rahman. Kebetulan pada tahun 2010, kelima tokoh tersebut sedang tour SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) di pesantren. Saat melihat mereka tampil membacakan karya, saya langsung, “wah, gila. Hebat sekali beliau-beliau ini”. Selain mereka saya juga kagum pada AS Laksana. Karena hampir tiap pekan beliau mengisi salah satu rubrik Jawa Pos, sedangkan di pesantren koran yang menjadi media informasi adalah koran Jawa Pos. Jika menyangkut budaya, ada Ahmad Tohari. Jadi, banyak penulis yang saya kagumi.

Di mana dan kapan waktu favorit Anda untuk menulis?

Setelah subuh. Saya akan mengunci pintu kamar rapat-rapat, dan membuka jendela lebar-lebar. Pikiran saya masih segar dan nyaman untuk menulis

Apa yang biasa Anda lakukan saat mengalami ‘writer’s block’ atau kebuntuan dalam menulis?

Saya alihkan dengan membaca. Apa saja. Fiksi atau non fiksi bahkan dari status teman-teman di media sosial karena terkadang dari sana muncul beberapa ide yang menarik untuk ditulis. Kalau tetap buntu, saya menulis genre lain. Misalnya buntu menulis cerpen, saya tulis puisi, cerita anak atau esai. Tetapi kalau sudah membaca dan menulis tidak membantu, ya, saya tinggalkan untuk sementara waktu. Saya menikmati hal-hal lain seperti mendengarkan musik atau menonton film. Baru setelah itu menulis lagi.

Berkaitan dengan tema UWRF19 yaitu Karma, bagaimana Anda memaknai hal tersebut?

Saya mempercayai hukum sebab-akibat. Siapa yang berbuat baik, maka dia akan menuai hal baik. Begitu pula sebaliknya. Tetapi bukan berarti jika saya berbuat baik karena saya berharap kebaikan. Ingin memperoleh balasan. Tidak. Tetapi karma bagi saya adalah hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan. Di antara hubungan itulah karma hadir sebagai pengingat bahwa kita sebatas makhluk yang berasal dari tanah dan kembali pada tanah.

Apa yang ingin Anda lakukan dan lihat di UWRF19 pada bulan Oktober mendatang?

Ada banyak hal yang ingin saya lakukan di sana. Selain belajar pada penulis-penulis besar, tentu saya akan menikmati seni dan budaya, menikmati kearifan lokal dan bersyukur sebab Tuhan memberi saya kesempatan mengikuti festival ini.

Buku apa yang selalu ingin Anda baca tetapi hingga saat ini belum juga Anda baca?

Matsnawi karya Maulana Rumi

 

Comments are closed.