Kenali Penulis Emerging Indonesia 2017: Rizki Amir

Posted: 05 October 2017 Author: sikuska

Di tahun 2017 Ubud Writers & Readers Festival menyeleksi 15 Penulis Emerging Indonesia untuk hadir dan tampil di panggung sastra internasional tersebut bersama penulis, pegiat, dan kreator seni terbesar dunia. Selain itu, karya-karya yang terpilih akan diterjemahkan ke bahasa Inggris dan diterbitkan dalam buku Anthology 2017. Ke-15 Penulis Emerging ini dipilih oleh tim kurasi yang terdiri dari Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, dan Warih Wisatsana. 

UWRF menghadirkan seri Kenali Penulis Emerging Indonesia 2017, di mana blogger UWRF, Putu Aruni Bayu akan melayangkan beberapa pertanyaan kepada masing-masing Penulis Emerging tersebut untuk mengenali mereka dan karya mereka lebih jauh. Di hari Kamis ini kami mengajak Anda untuk mengenal Rizki Amir yang berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur, lebih jauh.

Bisa ceritakan sedikit tentang diri Anda?

Nama saya adalah Rizki Amir. Lahir di Sidoarjo, 11 Oktober 1995. Belajar sastra di Universitas Negeri Surabaya. Bergiat di Komunitas Rabo Sore. Beberapa tulisan saya pernah dimuat Buletin Kecubung, Majalah Persada Sastra, dan Majalah Suluk. Puisi saya juga pernah tergabung dalam antologi bersama berjudul Seremoni Pacar di Pintu Darurat (2015). Selain menulis karya sastra,  saya juga menghabiskan sebagian waktu untuk berdagang.

Apakah masih ingat momen di mana Anda menerima berita bahwa Anda terpilih sebagai salah satu dari 15 Penulis Emerging Indonesia 2017? Ceritakan pada kami.

Saya tidak pernah menyangka bisa mendapatkan telepon dari pihak Ubud Writers & Readers Festival 2017 yang memberi tahu bahwa saya termasuk salah satu dari 15 Penulis Emerging. Seketika rasa senang sekaligus bingung menghampiri saat itu, karena saya masih tidak percaya bisa menjadi bagian dari UWRF17.

Apa judul tulisan Anda yang terpilih? 

Tulisan saya yang terpilih untuk mengikuti Penulis Emerging Ubud Writers & Readers Festival 2017 adalah manuskrip kumpulan puisi berjudul Rahasia Pasar. Puisi-puisi yang ada di dalam manuskrip tersebut saya tulis berdasarkan keresahan-keresahan yang ada di dalam pikiran dan hati saya. Karena bagi saya, Pasar adalah segala. Ia bukan hanya tempat bertransaksi, membeli segala kebutuhan yang diperlukan. Pasar lebih dari itu. Pasar serupa miniatur dari segala yang ada pada masyarakat.

Kapan pertama kali Anda mendengar tentang seleksi Penulis Emerging Indonesia?

Kali pertama mendengar tentang seleksi Penulis Emerging Indonesia ketika diskusi dengan Komunitas Rabo Sore yang dalam diskusi tersebut selain membahas karya anggota maupun penulis lain, juga mendiskusikan tentang perkembangan sastra dan berbagai sayembara yang ada salah satunya yang paling bergengsi adalah UWRF17.

Sudah berapa lama Anda menulis? Dan siapa yang menginspirasi Anda?

Saya menulis karya sastra sejak bergabung di Komunitas Rabo Sore pada tahun 2014 dan menjadi mahasiswa sastra Indonesia di Universitas Negeri Surabaya. Yang menginspirasi saya dalam menulis manuskrip kumpulan puisi berjudul Rahasia Pasar tersebut adalah para pedagang di mana pun mereka saya temui. Namun, ada beberapa penulis yang menjadi panutan saya, di antaranya adalah Goenawan Mohamad, Mardi Luhung, dan Nirwan Dewanto.

Apakah asal muasal Anda turut berperan dalam tulisan-tulisan yang Anda hasilkan?

Tentu saja. Saya dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan para pedagang, sedikit banyak hal tersebut berpengaruh dalam proses penulisan karya saya. Salah satu di antaranya adalah pola ucap dan kebiasaan yang dilakukan para pedagang yang sering saya temui.

Beritahu kami di mana tempat favorit Anda untuk menulis di kota tempat Anda tinggal, dan apa alasannya?

Tempat favorit untuk menulis sebenarnya tidak ada. Hanya saja, saya sering kali menulis puisi ketika bangun atau hendak tidur.

Apa yang ingin Anda lakukan dan lihat di UWRF17 bulan Oktober mendatang?

Bertemu, berbagi pengalaman dan melakukan diskusi, baik tentang sastra maupun di luar wilayah sastra, dengan para pembicara yang ada di UWRF17.

Jika Anda harus terjebak di sebuah pulau terpencil hanya dengan satu buku, buku apakah itu?

On God and Other Unfinished Things karya Goenawan Mohamad.

Apa saja yang ada di tas Anda saat ini?

HP, dompet, kacamata, kunci rumah, pulpen, buku catatan kecil, dan flashdisk.

 

Comments are closed.