Kenali Penulis Emerging Indonesia 2017: Morika Tetelepta

Posted: 17 October 2017 Author: sikuska

Di tahun 2017 Ubud Writers & Readers Festival menyeleksi 15 Penulis Emerging Indonesia untuk hadir dan tampil di panggung sastra internasional tersebut bersama penulis, pegiat, dan kreator seni terbesar dunia. Selain itu, karya-karya yang terpilih akan diterjemahkan ke bahasa Inggris dan diterbitkan dalam buku Anthology 2017. Ke-15 Penulis Emerging ini dipilih oleh tim kurasi yang terdiri dari Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, dan Warih Wisatsana. 

UWRF menghadirkan seri Kenali Penulis Emerging Indonesia 2017, di mana blogger UWRF, Putu Aruni Bayu akan melayangkan beberapa pertanyaan kepada masing-masing Penulis Emerging tersebut untuk mengenali mereka dan karya mereka lebih jauh. Di hari Selasa ini kami mengajak Anda untuk mengenal Morika Tetelepta yang berasal dari Ambon, Maluku lebih jauh.

Bisa ceritakan sedikit tentang diri Anda?

Saya ini anak Maluku yang lahir pada bulan Mei di Manado dan menghabiskan masa kecil di kota Malang. oleh sebab itu, saya suka tempe, brem, dan sesekali, cap tikus. di umur tiga puluh lebih ini, saya suka pergi melaut, masuk hutan, berenang di kali Waai, jalan kaki, dan mendengarkan bunyi bunyi di terminal Mardika pada pukul lima sore dan lima pagi. saat ini saya menetap di Ambon. Kota ini lumayan panas suhunya, namun pantainya bagus-bagus. makanya, saya selalu dapat banyak inspirasi untuk menulis lagu dan puisi-puisi saya.

Apakah masih ingat momen di mana Anda menerima berita bahwa Anda terpilih sebagai salah satu dari 15 Penulis Emerging Indonesia 2017? Ceritakan pada kami.

Saya lupa tanggal persis ketika dihubungi tim UWRF perihal lolosnya karya saya di Seleksi Penulis Emerging Indonesia 2017. namun, saya ingat betul tim UWRF bilang kalau dia kerepotan menghubungi saya sebab ponsel yang saya gunakan selalu tidak aktif.

Apa judul tulisan Anda yang terpilih dan apakah ada kisah di baliknya?

Tulisan yang pertama berjudul Niine. dalam bahasa Nuaulu, Niine berarti mimpi. Niine saya tulis untuk dibacakan di gereja Nehemia Ambon pada peringatan Hari Anti Narkotika Internasional. malam sebelum saya menulis, saya melihat beberapa teman-teman yang sudah meninggal, dalam mimpi saya. Niine saya tulis sambil mengenang mereka. Tulisan kedua pendek saja, hanya enam kata dan satu foto. saya merespon foto lukisan jam dinding yang saya lihat di galeri Petronas. tak ada kisah yang istimewa dalam tulisan ini. saya hanya ingin menulis tentang relasi manusia dengan benda-benda yang kadang kala sering berbenturan dengan relasi manusia terhadap sesamanya.

Kapan pertama kali Anda mendengar tentang seleksi Penulis Emerging Indonesia?

Tahun 2011, saya pernah diberitahu oleh Luna Vidya untuk mengirim karya ke UWRF. lalu, di tahun ini, Luna kembali mengingatkan perihal Seleksi Penulis Emerging maka baru di tahun ini saya mengirim karya-karya saya.

Sudah berapa lama Anda menulis? Dan siapa yang menginspirasi Anda?

Sebelum serius menulis puisi, sajak dan prosa; saya lebih dahulu memulainya dengan menulis lagu rap. menurut saya, lirik rap sangat dekat dengan puisi. sejak tahun 2009 saya mulai serius merambah puisi. Saya selalu suka dengan gaya menulis Pramudya A. Toer, Frederick Forsyth, dan Nikolai Gogol.

Apakah asal muasal Anda turut berperan dalam tulisan-tulisan yang Anda hasilkan?

Iya, turut beperan dan perannya penting terhadap karya-karya saya. sebab hampir sebagian besar karya-karya saya, baik tulisan maupun lagu, berangkat dari kesadaran terhadap tanah dan leluhur.

Beritahu kami di mana tempat favorit Anda untuk menulis di kota tempat Anda tinggal, dan apa alasannya?

Pulau Tiga, Pulau Isa’u, dan dusun Tapi di Wakasihu. Tiga tempat ini punya bebunyian yang enak. Ada bunyi ombak yang memukul batu-batu, angin di daun-daun pohon ketapang, kasuari juga suara burung-burung. Jarang sekali ada bunyi knalpot yang sering bikin buram pikiran.

Apa yang ingin Anda lakukan dan lihat di UWRF17 bulan Oktober mendatang?

Saya ingin mengikuti workshop, diskusi, nonton film, dengar musik, berjumpa Michael Vatikiotis, dan senang-senang.

Buku apa yang saat ini sedang Anda baca?

John Dickie, Cosa Nostra : A History of The Sicilian Mafia

 

 

 

 

Comments are closed.