Putu Fajar Arcana was born in Negara, Bali, in 1965. He used to be the coordinator of Sanggar Minum Kopi (SMK – Coffee Drinking Workshop), Bali, in the early 90’s, that organised national poetry writing competitions and regional poetry reading competitions regularly. While being a jury Putu went around Bali, at the same time promoting literature in the areas. He was one of the founding fathers of CAK Foundation Denpasar, that still publishes CAK Journals to this day, and initiated the establishment of Warung Budaya (Culture Café) in Taman Budaya Denpasar in 1998.
Putu’s won various short story and poetry writing competitions. In 2002 he was one of the 10 Best Short Story Writers in a national short story writing competition that was organised by Bali Post Denpasar. He was also the winner of the National Short Story Writing Competition that was held in Batu, East Java, in the same year. His poem was nominated for Borobudur Award in 1996. Besides that, his script for a TV drama was the best of Ten of the Best in Bali in 1993.
In 2003 one of his short stories, Waktu Nyala, was included in Kompas’s selection. In the same year, he published a collection of short stories titled Bunga Jepun and performed The Short Story Theatre Bunga Jepun in Jakarta and Bandung, with other artists from Bali and Bandung.
In 2004 his short story, Sepi pun Menari di Tepi Hari, once again was included in Kompas’s selection. His second short story collection titled Samsara (2005) was published by Gramedia Pustaka Utama, and then he published a collection of essays titled Surat Merah untuk Bali in 2007. His first novel titled Gandamayu: Cinta Perempuan Terkutuk will be published by Pusat Penelitian dan Pengembangan Bahasa.
His solo anthology titled Bilik Cahaya was published in 1997. Other than that, his poems were also collected in Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Menagerie IV (2000), Bali The Morning After (2000), Bonsai’s Morning (1996), Teh Ginseng (1993), Dari Negeri Poci III (1994), Kembang Rampai Puisi Bali (1999), Amsal Sebuah Patung (1996) and Gelak Esei dan Ombak Sajak (2000). His short story was included in Para Penari (2002), an anthology .
Today, Putu is working as a journalist for Kompas in Jakarta. He worked for TEMPO Magazine in Jakarta, Karya Bhakti Weekly in Denpasar, Nusa Tenggara Daily in Denpasar, and Ekbis Tabloid Denpasar. His journalism works have won several competitions in Bali. **
———————————————————————————————–
Putu Fajar Arcana, lahir di Negara, Bali tahun 1965. Pernah menjadi Koordinator Sanggar Minum Kopi (SMK) Bali pada awal 90-an, yang secara rutin menyelenggarakan Lomba Penulisan Puisi se-Indonesia, serta Lomba Baca Puisi se-Bali. Putu berkeliling untuk menjadi juri serta membangkitkan kehidupan sastra di daerah-daerah seputar Bali. Ia menjadi salah satu bidan kelahiran Yayasan CAK Denpasar yang menerbitkan Jurnal CAK sampai kini, serta mengambil inisiatif mendirikan Warung Budaya di Taman Budaya Denpasar tahun 1998.
Beberapa kali memenangkan berbagai lomba penulisan cerpen dan puisi. Tahun 2002 lalu, ia menjadi 10 Cerpenis Terbaik dalam Lomba Menulis Cerpen se-Indonesia yang diselenggarakan Bali Post Denpasar. Ia juga menjadi pemenang utama Lomba Menulis Cerpen se-Indonesia yang diadakan di Kota Batu, Jawa Timur di tahun yang sama. Puisinya masuk nominasi untuk meraih Borobudur Award tahun 1996. Selain itu, naskah sinetronnya keluar sebagai pemenang Sepuluh Terbaik tahun 1993 di Bali.
Tahun 2003 salah satu cerpennya termasuk dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas, Waktu Nayla. Pada tahun yang sama, ia menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Bunga Jepun serta mengadakan pementasan The Short Story Theatre Bunga Jepun di Jakarta dan Bandung bersama para seniman dari Bali dan Bandung.
Tahun 2004 cerpennya kembali termasuk dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas, Sepi pun Menari di Tepi Hari. Kumpulan cerpen keduanya berjudul Samsara (2005) diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, lalu ia menerbitkan kumpulan esai berjudul Surat Merah untuk Bali tahun 2007. Novel pertamanya akan diterbitkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Bahasa berjudul Gandamayu: Cinta Perempuan Terkutuk.
Kumpulan puisi tunggalnya terbit tahun 1997 dengan judul Bilik Cahaya. Selain itu terkumpul pula dalam Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Menagerie IV (2000), Bali The Morning After (2000), Bonsai’s Morning (1996), Teh Ginseng (1993), Dari Negeri Poci III (1994), Kembang Rampai Puisi Bali (1999), Amsal Sebuah Patung (1996) dan Gelak Esei dan Ombak Sajak (2000). Cerpennya termuat dalam antologi Para Penari (2002) .
Kini, Putu bergabung sebagai wartawan Kompas di Jakarta. Pernah pula bergabung dengan Majalah TEMPO Jakarta, Mingguan Karya Bhakti Denpasar, Harian Nusa Tenggara Denpasar, dan Tabloid Ekbis Denpasar. Karya jurnalistiknya beberapa kali menjadi pemenang utama di Bali. **


